Halaman

Selasa, 11 Oktober 2011

skripsi perbaikan metode kerja untuk menungkatkan produktifias tenaga kerja


 KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga telah dapat menyelesaikan penelitian dengan baik.
 Penelitian ini berjudul : Perbaikan Metode Kerja untuk  peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja di Bengkel Bubut Balai Pelatihan Kerja Industri (BLKI) Banda Aceh. Penelitian  ini bertujuan memenuhi persyaratan akademik untuk penyelesaian program sarjana Jurusan  Teknik Industi  Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh.
Penulis menyadari bahwa laporan penelitian  ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritikan dan saran yang membangun dari pembaca untuk kesepurnaan penelitian  ini.
Akhir kata menulis mengucapkan terimakasih, Semoga Tugas Sarjana ini bermanfaat bagi pembaca.
Dalam menyelesaikan penelitian ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1.    Ibu Ir. Hj. Elvitriana, M. Eng selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Serambi Mekkah.
2.    Bapak Muzafar, ST. SE. MM selaku Ketua Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Serambi Mekkah.
3.    Ibu Irhamni, ST. MT selaku Pembimbing I yang telah banyak memberikan petunjuk serta arahan-arahan yang penulis perlukan dalam pembuatan Tugas Sarjana.
4.    Ibu Ir, Dewi Mulyati selaku Pembimbing II yang telah banyak memberikan petunjuk serta arahan-arahan yang penulis perlukan dalam pembuatan Tugas Sarjana.
5.    Semua Dosen dan Staf dalam jajaran Fakultas Teknik Universitas Serambi Mekkah.
6.    Bapak Samsir Harahap, SPd selaku Menejer pada bengkel Bubut Balai Pelatihan Kerja Industri  (BLKI) Banda Aceh.
Serta tidak lupa rasa sayang dan terima kasih yang ingin saya hanturkan kepada orang tua saya, yang telah banyak memberikan fasilitas, dorongan, kasih sayang dan perhatian yang tidak terhitung kepada saya. Tidak banyak yang dapat saya berikan kepada mereka kecuali rasa sayang, perhatian, kebanggaan  serta kesuksesan saya.
Akhir kata semoga laporan ini dapat menambah pengetahuan, wawasan yang berguna bagi pihak-pihak yang membutuhkan, bagi penulis khususnya dan umumnya bagi yang membaca laporan ini.
Aceh Besar,  2011
Penulis

Anwar.

DAFTAR ISI
Halaman
LEMBARAN PENGESAHAN....................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii     
DAFTAR TABEL............................................................................................ iv     
DAFTAR GAMBAR....................................................................................... x
LAMPIRAN..................................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1. Latar Belakang Masalah................................................................... 1
1.2. Batasan Masalah............................................................................... 2
1.3. Perumusan Masalah.......................................................................... 2      
1.4.Tujuan Penelitian .............................................................................. 2
1.5. Manfaat penelitian............................................................................ 3
BAB II LANDASAN TIORI.......................................................................... 4      
2.1. Analis Metode Kerja........................................................................ 4
2.2. Tenaga Kerja dan Jam Kerja  .......................................................... 5
2.3. Definisi Ergonomi............................................................................ 6
2.3.1. Tujuan dan Pentingnya Ergonomi.......................................... 7      
2.3.2. Bidang kajian Ergonomi........................................................ 7
2.3.3. Prinsip Ekonomi Gerakan ..................................................... 9
2.4. Eliminasi Gerakan........................................................................... 10
2.5. Studi Teknik Tatacara Kerja............................................................. 11
2.6. Ruang Lingkup Penelitian Kerja....................................................... 11
2.7. Sikap dan Posisi Kerja ..................................................................... 11
2.8. Kondisi Lingkungan Kerja............................................................... 12
2.9. Pengukuran Waktu Kerja................................................................   12
....... 2.9.1. Teknik pengukuran waktu secara langsung............................ 13
....... 2.9.2. Teknik pengukuran waktu secara tidak langsung................... 13
2.10. Tahap Penentuan Waktu Normal.................................................... 13
2.11. Menentukan Allowance.................................................................. 23
2.12.Perbaikan Metode Kerja.................................................................. 23
2.13.Prosedur Perbaikan Metode Kerja .................................................. 24
BAB III  METODOLOGI  PENELITIAN..................................................... 26    
3.1. Lokasi Penelitian.............................................................................. 26
3.2. Metode Pengumpulan Data.............................................................. 26    
3.3. Metode Analisa Data........................................................................ 26
3.4. Langkah pengukuran waktu............................................................. 27
3.5. Langkah Dalam Menguji Keseragaman Data................................... 28
3.6. Variabel Penelitian............................................................................ 29
3.7.Instrumen penelitian ......................................................................... 29
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ........................ 30
         4.1. Pengumpulan Waktu ........................................................................ 30
         4.2.Letak Fasilitas Kerja ......................................................................... 30
                 4.2.1 Letak Fasilitas Kerja Operator pertama .................................. 31
                 4.2.1. Letak Fasilitas kerja Operator kedua ..................................... 31
         4.3. Pengolahan Data............................................................................... 32
                 4.3.1. Uji Keseragaman Data........................................................... 32
                 4.3.2. Menguji Kecukupan Data...................................................... 36
                 4.3.3. Menentukan Rating Factor.................................................... 37
                 4.3.4. Menentukan Allowance.......................................................... 38
                 4.3.5. Menentukan Waktu Normal................................................... 40
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 41
         5.1. Kesimpulan ...................................................................................... 41
         5.2. Saran................................................................................................. 41
Daftar Pustaka.................................................................................................. xii


ABSTRAK
Bengkel bubut Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri bubut . Salah satu produk yang dihasilkan adalah  baut. Proses produksi bubut  terdapat kegiatan yang bersifat manual dilakukan oleh gerakan tangan. Melalui pengamatan yang dilakukan di bengkel bubut adanya gerakan kurang efektif dan banyaknya delay sehingga waktu menyelesaikan pekerjaan lebih lama. Tata letak fasilitas bagian bengkel kurang baik karena letak kunci dan bahan baku yang akan dibubut oleh operator pertama berada di belakang operator, dengan operator 55 cm. Jarak ini akan membuat operator kesusahan mencapai target. Letak kereta sorong dengan operator kedua memiliki jarak 95 cm. Keadaan ini membuat waktu banyak terbuang tentunya akan mengalami kelambatan dalam proses produksi. Tata letak fasilitas juga merupakan faktor yang mempengaruhi lamanya waktu penyelesaian. Tujuan penelitian ini adalah perbaikan metode kerja yang dilakukan dengan keseimbangan kerja dengan menghilangkan atau mengurangi gerakan-gerakan yang tidak efektif sehingga tentunya akan mempersingkat waktu kerja. Untuk pengerjaannya setiap operasi diuraikan menjadi elemen-elemen gerakan dan kemudian memilih elemen-elemen yang efektif. Hasil penelitian perlu adanya perbaikan metode kerja yaitu dengan memperbaiki tata letak fasilitas kerja dengan memindahkan mesin dan letak peralatan kerja  yang akan diperiksa oleh  operator dengan jarak operator dan peralatan kerja menjadi 20 cm. Sehingga tempat peralatan kerja berada di tempat yang mudah dicapai. Letak kereta sorong dengan operator 15 cm. Sehingga waktu operator semakin singkat dan hasil produksi semakin meningkat.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang Masalah
Sumber daya manusia merupakan salah satu aspek penting dalam suatu indutri, performal kerja yang baik dari sumber daya manusia secara tidak langsung akan mendukung kemajuan dari industri itu sendiri, Fasilitas dan metode kerja pada suatu industri juga merupakan aspek penting yang berpengaruh terhadap kegiatan produksi. Kedua aspek tersebut saling berhubungan dan mendukung satu sama lain dalam menciptakan suatu kondisi kerja yang kondusif. Dengan adanya fasilitas dan metode kerja yang baik, maka dapat meningkatkan performal dari para pekerja yang meminimumkan kemungkinan terjadi kecelakaan kerja, oleh karna itu dibutuhkan perbaikan metode kerja dan merancang fasilitas kerja yang memperhatikan aspek egronomis, agar dapat menciptakan suatu kenyamanan dan keamanan dalam bekerja.
Pengaturan metode kerja yang baik adalah memaksimalkan efisiensi dalam pelaksanaan suatu produksi. Sistem kerja terdiri dari empat komponen utama yaitu manusia, bahan, peralatan/fasilitas kerja dan lingkungan kerja seperti ruangan dan keadaan pekerja disekelilingnya. Dari keempat komponen utama, komponen manusia adalah pusat dalam sistem kerja karena pada dasarnya manusia selain berperan sebagai perencana suatu sistem kerja juga sebagai pelaksana dan pengendali yang harus berinteraksi dengan sistem untuk dapat mengendalikan proses yang sedang berlangsung pada sistem kerja secara keseluruhan.
Bengkel Bubut Balai Pelatihan Kerja Industri  adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri bubut. Salah satu produk yang dihasilkan adalah membuat baut. Pada proses produksi bubut melalui proses pembubutan terdapat kegiatan yang bersifat manual. Melalui pengamatan yang dilakukan di pembubutan adanya gerakan kurang efektif dan banyaknya delay sehingga waktu meyelesaikan pekerjaan lebih lama. Tata letak fasilitas bagian bubut kurang baik karena letak material yang akan kerjakan  oleh operator pertama berada dibelakang operator dan jarak meterial dengan operator 55 cm. Letak kunci dengan operator kedua berjarak 95 cm. Keadaan ini membuat waktu banyak terbuang tentunya akan mengalami kelambatan dalam proses produksi.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, Penulis melihat bahwa perusahaan masih kurang memperatikan letak fasilitas dan metode kerja yang telah ditepkan di perusahaan saat ini. Berdasarkan latar belakan di atas penulis perlu ngadakan penelitian tentang Perbaikan Metode Kerja Untuk Peningkatan Produktifitas Tenaga Keja Pada Bengkel Bubut Balai Latihan Kerja Industri

1.2         Batasan Masalah
         Agar masalah tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan, maka penulis memberikan batasan masalah.
1.      Perbaikan metode kerja yang ergonomi.
2.      Pengamatan dan pengukuran waktu hanya dilakukan pada bagian operator bengkel bubut.

1.3         Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka perumusan masalah adalah :
1.        Bagaimana perbaikan metode kerja guna untuk meningkatkan produktifitas tenaga kerja.
2.        Bagaimana memperbaiki fasilitas kerja yang mendukung metode kerja dengan memperhatikan faktor Egronomi di Bengkel Bubut.

1.4         Tujuan Penelitian
Untuk mengetahi tujuan dari penelitian  Sebagai berikut :
1.        Melakukan perbaikan  metode kerja yang dilakukan oleh operator bengkel bubut dan usulan fasilitas kerja yang ergonomis pada bagian bengkel bubut.
2.        Memperbaiki fasilitas kerja yang mendukung metode kerja, dengan memperhatikan faktor egronomi.

1.5         Manfaat Penelitian
Adapun mamfaat yang dapat diperoleh dari penelitian  ini adalah sebagai berikut:
1.      Perusahaan
Memberi masukan terhadap pihak perusahaan mengenai metode kerja dan Tata letak fasilitas yang Egronomis
2.      Perguruan Tinggi
Mamfaat bagi perguruan tinggi adalah Sebagai bahan kajian pernelitian selajutnya dan juga sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian selanjutnyan mengenai fasilitas kerja,
3.      Mahasiswa
Bagi Mahasiswa adalah  untuk membandingkan pengetahuan dari teori dan kenyataan di lapangan. Juga merupakan syarat bagi penulis untuk memperoleh gelar sarjana pada jurusan Teknik Industri.


BAB II
LANDASAN TEORI    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   
2.1.Analisa Metode Kerja
Teknik tata cara kerja merupakan suatu ilmu yang terdiri dari teknik – teknik dan prisip- prinsip untuk mendapatan rancangan (desain) terbaik dari sistem kerja, teknik dan prinsip – prinsip ini di gaunakan untuk mengatur komponen – komponen sistem kerja yeng terdiri dari manusia dengan sifat dan kemampuannya, bahan, perlengkapan dan peralatan kerja serta lingkungan kerja sehingga tercapai tingkat efesien dan produktifitas tinggi yang di ukur dengan waktu yang di habiskan.
Metode kerja adalah suatu kegiatan pencatat secara sistematis dan pemeriksaan dengan seksama mengenai cara- cara yang berlaku atau yang di usulkan untuk melaksanakan kerja. Sasaran pokok dari efektifitas ini adalah mencari, mengembangkan dan menerapakan metode kerja yang lebih efektif dan efesien dengan tujuan akhir adalah waktu penyelesaian lebih singkat dan cepat.hal ini secara sistematis dapat dilihat pada gambar 2.1 (http://www.scribd.com/doc/46640146/Pengukuran-Waktu-Kerja)
Analisa
Metode Kerja
Berapa
alternatif
sistem kerka
Pemilihan
Alternatif sistem
Kerja terbaik
SISTEM KERJA
1.      Pekerjaan
2.      Matereal
3.      Mesin dan Peralatan
4.      Lingkungan Fisik Kerja






                                                 


Gambar 2.1 Langkah Waktu Penyelesaian
Gambar 2.1. terlihat bahwa di dalam analisa metode kerja ada empat macam komponen sistem kerja yang harus dipelajari guna memperoleh metode kerja yang sebaik-baiknya meliputi :
1.      Komponen Material, yaitu bagaimana menempatkan material, jenis material yang mudah diproses dan lain sebagainya.
2.      Komponen Manusia, yaitu bagaimana sebaiknya posisi orang pada saat proses kerja berlangsung agar mampu memberikan gerakan-gerakan kerja yang efektif dan efisien.
3.      Komponen Mesin, yaitu bagaimana desain dari mesin dan atau peralatan kerja lainnya.
4.      Komponen Lingkungan Kerja Fisik, yaitu bagaimana kondisi lingkungan kerja fisik tempat operasi kerja tersebut dilaksanakan.
Dari apa yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pokok dari kegiatan analisa metode kerja ini adalah sebagai berikut :
1.      Perbaikan proses dan tata cara pelaksanaan penyelesaikan pekerjaan
2.      Perbaikan dan penghematan penggunaan material, tenaga mesin/fasilitas kerja lainnya serta tenaga kerja manusianya.
3.      Usaha manusia dan pengurangan keletihan yang tidak perlu.
4.      Tata ruang kerja yang mampu memberikan suasana lingkunagan kerja yang nyaman dan aman.

2.2.Tenaga Kerja dan Jam Keja
Tabel 2.2. Tenaga kerja yang terdapat di  bengkel bubut BLKI Banda Aceh.
Uraian
Pria
(Orang)
Wanita
(orang)
Jumlah
(orang)
Jumalah
Kepala
1

1
1
Karyawan pimpinan
1

1
1
Karyawan pelaksana
6

6
6






Sumber Bengkel Bubut Balai Latihan Kerja Industri.2011

Waktu kerja di bengkel bubut balai latihan kerja industri  terdiri dari dua bagian yaitu waktu kerja karyawan kantor dan waktu kerja karyawan produksi. Adapun pembagian waktu kerja tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Waktu kerja karyawan kantor
Senin-Jumat 08.00-16.00
b.      Waktu kerja karyawan produksi
Untuk karyawan produksi (Senin-Sabtu), yaitu:
 Senin-Jumat 08.00-17.00
 Sabtu 08.00-12.00

2.3.  Definisi Ergonomi
Istilah Ergonomi berasal dari bahasa Latin yaitu ERGON (kerja) dan NOMOS (hukum alam). Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu, dengan efektif, aman, nyaman, sehat, efisien.( Sritomo Wingjosoebroto 2000)
Ilmu ergonomi akan memberikan manfaat yang sangat besar apabila perusahaan  menerapkan secara tepat. Manfaat penerapan ergonomi antara lain adalah :
1.    Menambah waktu kecepatan kerja, ketepatan, keselamatan kerja, mengurangi energi serta kelelahan yang berlebihan.
2.    Mengurangi waktu, biaya pelatihan dan pendidikan.
3.    Mengoptimalkan pendayagunaan sumer daya manusia melalui peningkatan keterampilan yang diperlukan.
4.    Mengurangi waktu yang terbuang sia-sia dan meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan kesalahan manusia.
5.     Meningkatkan kenyamanan karyawan dalam bekerja.



2.3.1.                    Tujuan dan Pentingnya Ergonomi
Tujuan ergonomi adalah untuk meningkatkan produktifitas tenaga kerja pada suatu perusahaan atau organisasi. Hal ini dapat tercapai apabila terjadi kesesuaian antara pekerja dan pekerjaannya. Banyak yang menyimpulkan bahwa tenaga kerja harus dimotivasi. Dengan demikian akan menurunkan jumlah tenaga kerja yang tidak masuk kerja. Namun pendekatan ergonomi mencapai kebaikan antara pekerja dan pimpinan perusahaan. Hal ini dapat tercapai dengan memperhatikan 4 tujuan utama ergonomi, antara lain :
1.    Memaksimalkan efesiensi tenaga kerja
2.    Memperbaiki kesehatan dan keselamatan kerja
3.    Menganjurkan agar bekerja aman (comfort), nyaman dan bersemangat
4.    Memaksimalkan performansi kerja yang meyakinkan

2.3.2.      Bidang Kajian Ergonomi
Salah satu usaha untuk mendapatkan informasi mengenai kemampuan manusia dengan segala keterbatasannya untuk dapat menrapkan ergonomic yaitu dengan melakukan penyelidikan-penylidikan yang dilakukan. Ergonomi dikelompokkan atas 4 bidang penyelidikan yaitu :
1.    Penyelidikan Tentang Tampilan
Tampilan (display) adalah suatu perangkat antara penyaji informasi mengenai keadaan lingkungan dan kemudian mengkomunikasikannya pada manusia dalam bentuk tanda-tanda, angka-angka, lambing dan sebagainya. Informasi ini dapat ditampilkan dalam bentuk statis, misalnya peta yang menggambarkan perubahan menurut waktu sesuai dengan variabelnya, misalnya speedometer.
2.    Penyelidikan Tentang Kekuatan Fisik
Dalam hal ini diselidiki aktifitas-aktifitas manusia ketika bekerja kemudian dipelajari cara mengukur aktifitas tersebut. Penyelidikan ini juga mempelajari perancangan objek serta peralatan yang sesuai dengan kemampuan  fisik manusia pada saat melakukan aktifitasnya.
3.    Penyelidikan Tentang Ukuran Tempat Kerja
Penyelidikan ini bertujuan untuk mendapatkan rancangan tempat kerja yang sesuai dengan dimensi tubuh manusia, agar diperoleh tempat kerja yang baik. Tempat kerja yang baik adalah tempat kerja yang memperhatikan dan memperhitungkan kemampuan dan keterbatasan manusia.
4.    Penyelidikan Tentang Lingkungan Kerja
Penyelidikan ini meliputi kondisi fisik tempat kerja dan fasilitas seperti pengaturan cahaya, kebisingan, getaran, bau, kelembapan dan lain-lain yang dianggap dapat mempengaruhi tingkah laku manusia.
Pengelompokkan bidang kajian ergonomic yang secara lengkap mencakup seluruh perilaku manusia dalam bekerja adalah sebagai berikut :
a.      Antropometri
Antropometri mengkaji masalah dimensi tubuh  manusi.Informasi dimensi tubuh manusia diperlukan untuk merancang suatu system kerja yang ergonomis agar menunjang kemudahan, kenyamanan dan keamanan dari suatu pekerjaan. Perbedaan ini merupakan kdrat bahwa tidak ada individu yang persis sama dalam segala hal.
b.      Faal Kerja
Perilaku manusia yang dibahas dalam faal kerja adalah reaksi tubuh manusia selama bekerja khususnya mengenai energi yang dikeluarkannya. Energi diperoleh manusia dari makanan yang dimakannya. Malalui berbagai tahap metabolisme pada system pencernaan, zat-zat yang mengandung energi disimpan dalam bentuk lemak dan glikogen. Untuk keperluan bekerja glikogenlah yang berperan besar, sedangkan darah membawa oksigen untuk dikirim ke otot-otot tubuh yang memerlukannya. Beberpa perilaku manusia yang dibahas dalam faal kerja adalah kelelahan ( fatique otot).
c.           Biomekanika
Biomekanika kerja mengkaji perilaku tubuh manusia dari aspek-aspek mekanika gerakan anggota tubuh. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa biomekanika kerja berhubungan dengan kekuatan, daya tahan, kecepatan dan kemampuan otot dalam berinteraksi dengan aspek-aspek mekanik yang ditimbulkan oleh kerja.

2.3.3.      Prinsip-prinsip Ekonomi Gerakan
Dalam menganalisa dan mengevaluasi metode kerja guna memperoleh metode kerja yang lebih efisien, maka perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip ekonomi gerakan (principles of motion economy). Prinsip-prinsip ekonomi pada suatu stasiun kerja dan bias juga untuk kegiatan kerja yang berlangsung secara menyeluruh dari suatu stasiun kerja kestasiun kerja yang lainnya.
Prinsip-prinsip ini dapat dihubungkan dengan beberapa hal, yaitu :
1.      Prinsip-prinsip ekonomi gerakan yang dihubungkan dengan tubuh manusia  dan gerakanya, yang terdiri dari :
a.       Kedua tangan sebaiknya memulai dan menmgakhiri gerakan pada saat yang sama.
b.      Kedua tangan sebaiknya tidak menganggur pada saat yang sama kecuali pada waktu istirahat
c.       Gerakan kedua tangan akan lebih mudah jika atu terhadap lainnya saling simetris dan berlawanan arah
2.      Prinsip ekonomi gerakan yang dihubungkan dengan pengaturan tata letak tempat kerja yang terdiri dari :
a.       Sebaiknya diusahakan agar badan dan peralatan mempunyai tempat yang tetap.
b.      Tempatkan bahan-bahan dan peralatan ditempat yang mudah dicapai.
c.       Tempat penyimpanan bahan yang akan dikerjakan sebainya memanfaatkan prinsip gaya berat sehingga bahan yang akan dipakai selalu tersedia ditempat yang dekat untuk di ambil.
d.      Sebaiknya untuk menyalurkan objek yang sudah selesai dirancang mekanismenya baik.
e.       Tinggi tempat kerja dan kursi sebaiknya sedemikian rupa sehingga alternative berdiri atau duduk dalam menghadapi pekerjaan merupakan salah satu hal yang menyenangkan. Tata letak peralatan dan pencahayaan sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga membentuk kondisi yang baik untuk penglihatan.
3.       Prinsip ekonomi gerakan yang dihubungkan dengan perancangan peralatan.
a.       Sebaiknya tangan dapat dibebaskan dari semua pekerjaan bila penggunaan dari perkakas pembantu atau alat yang dapat digerakkan dengan kaki dapat ditingkatkan.
b.      Peralatan dirancang sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam pemegangan dan penyimpanannya.
c.       Sebaiknya peralatan dirancang dengan baik agar mempunyai lebih  dari satu kegunaan.
d.      Bila setiap jari tangan melakukan gerakan sendiri-sendiri maka beban yang didistribusikan pada jari harus sesuai dengan kekuatan masing-masing jari.
Prinsip ekonomi gerakan diatas sangat berkaitan cukup erat satu sama lain dapat gunakan untuk menganalisa gerakan-gerakan kerja setempat yang terjadi dalam sebuah stasiun kerja dan bisa juga untuk kegiatan-kegiatan kerja yang berlangsung secara menyeluruh dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja yang lainnya.

2.4.Eliminasi Gerakan
1.      Eliminasi semua kegiatan/aktivitas yang memungkinkan, langkah-langkah atau gerakan-gerakan anggota tubuh.
2.      Eliminasi kondisi yang tidak beraturan didalam setiap kegiatan. Letakkan segala fasilitas kerja dan material/komponen pada lokasi yang tetap yang dapat menyebabkan gerakan-gerakan yang otomatis.
3.      Eliminasi penggunaan tangan sebagai memegang (holding device) karena hal ini merupakan kegiatan tidak produktif yang menyebabkan kerja kedua tangan tidak seimbang.
4.      Eliminasi gerakan-gerakan yang tidak semestinya, abnormal, terutama yang menyangkut keselamatan kerja.
5.      Eliminasi penggunaan tenaga otot unutk melaksanakan kegiatan statis atau fixed position. Sebaiknya gunakan tenaga mesin.
6.      Eliminasi waktu kosong (idle time) atau waktu menunggu (delay time) dengan membuat perencanaan atau penjadwalan kerja sebaiknya.

2.5.Studi Teknik Tata Cara Kerja
Studi Teknik Tata Cara Kerja sangat dibutuhkan karena di dalam ini terdapat prinsip-prinsip untuk merancang system kerja yang terbaik. Penataan sistem kerja umumnya berisi berisi prinsip-prinsip yang mengatur komponen-komponen sistem kerja. Komponen-komponen kerja diatur sehingga bersama-sama berada dalam suatu komposisi yang baik, yaitu yang dapat memberikan keadaan yang efektif, aman, sehat, nyaman dan efisien.

2.6.Ruang Lingkup Penelitian Kerja
Sasaran pokok dari efektivitas ini adalah mencari, mengembangkan dan menerapkan metode kerja yang lebih efektif dan efisien dengan tujuan akhir adalah waktu penyelesaian pekerjaan yang lebih singkat. Proses penelitian ini akan menitikberatkan pada studi gerakan kerja yang dilakukan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya. Untuk mencapai tujuan ini maka terlebih dahulu diperoleh kondisi pekerjaan yang memungkinkan dilakukan gerakan-gerakan secara ekonomis. Untuk mendapatkan kondisi yang baik yaitu memungkinkan dilakukan gerakan yang ekonomis perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi, yaitu :
a.       Penggunaan bahan/anggota tubuh manusia serta gerakan-gerakan.
b.      Pengaturan letak area kerja.
c.       Perancangan alat-alat dan perlengkapan kerja

2.7.  Sikap dan Posisi Kerja
         sikap dan posisi kerja yang untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
1.          Operator tidak seharusnya menggunakan jarak jangkauan maksimum yang bisa dilakukan. Pengaturan posisi kerja dalam hal ini dilakukan dalam jarak jangkauan normal sesuai prinsip ekonomi gerakan. Daerah kerja normal adalah daerah di depan  pekerja yang dapat disapu oleh kedua lengan.
2.          Operator tidak seharusnya duduk atau berdiri pada saat bekerja untuk waktu yang lama dengan leher, kepala, dada atau kaki berada dalam sikap atau posisi miring. Demikian juga sedapat mungkin menghindari cara kerja yang memaksa operator harus bekerja dangan posisi terlentang atau terlungkup.
3.          Operator tidak seharusnya dipaksa bekerja dalam frekwensi atau periode waktu yang lama dengan tangan atau lengan berada dalam posisi diatas level siku yang normal.
4.          Mengurangi keharusan operator untuk bekerja dengan sikap dan posisi kerja membungkuk dengan frekwensi kegiatan yang sering atau jangka waktu lama. Stasiun kerja harus dirancang terutama memperlihatkan fasilitas kerjanya seperti meja, kursi dan lain-lain yang sesuai dengan anthropometri agar operator dapat menjaga sikap dan posisi kerja yang tegak dan normal. Ketentuan ini terutama ditekankan bilamana pekerjaan dilaksanakan dengan posisi berdiri.

2.8.  Kondisi Lingkungan Kerja
Manusia akan mampu melaksanakan kegiatannya dengan baik sehinga dicapai suatu hasil yang optimal, apabila keduanya ditunjang oleh suatu kondisi lingkungan yang baik.
Kondisi lingkungan dikatakan baik apabila didalamnya manusia bisa melaksanakan kegiatannya dengan aman, sehat dan nyaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya suatu kondisi lingkungan kerja antara lain temperatur, kelembaban, getaran, kebisingan, pencahayaan, dan lain-lain. Adanya lingkungan kerja fisik yang panas, bising atau udara yang tercemar akan mamberikan dampak negatif  terhadap kinerja, moral dan motivasi kerja operator. Keadaan lingkungan yang kurang baik dapat menuntut tenaga dan waktu yang lebih banyak tentunya tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien dan produktif

2.9.  Pengukuran Waktu Kerja
Pengukuran waktu  kerja adalah mengamati dan mencatat waktu-waktu kerja baik setiap elemen-elemen ataupun siklus dengan menggunakan alat-alat yang sudah disiapkan. Pengukuran waktu kerja ini akan berhubugan dengan usaha-usaha untuk waktu yang dibutuhkan guna menyelesaikan suatu pekerjaan. Secara singkat pengukuran kerja adalah metoda penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia yang disesuaikan dengan unit out put yang dihasilkan. Isi kerja biasanya diukur dalam satuan waktu. Waktu yang diambil sebagai dasar pertimbangan waktu secara normal diperlukan oleh seorang pekerja untuk menyelesaikan satu siklus pekerjaan dengan metode kerja terbaik. Secara garis besar teknik pengukuran waktu dibagi dalam dua bagian, yaitu  Teknik pengukuran waktu secara langsung dan  Teknik pengukuran waktu secara tidak langsung.

2.9.1. Teknik pengukuran waktu secara langsung
Teknik pengukuran waktu yang dilakukan secara langsung yaitu pengukuran dilakukan di tempat dimana pekerjaan yang dilakukan operator dan diamati oleh penulis. Ada dua cara yang termasuk ke dalam teknik ini, yaitu stop watch time study (jam henti) dan work sampling (sampling pekerjaan).

2.9.2.      Teknik pengukuran waktu secara tidak langsung
Teknik pengukuran waktu secara tidak langsung dilakukan karena penulis melakukan pengukuran tanpa harus berada ditempat dimana operator melakukan pekerjaan. Membaca tabel–tabel yang tersedia dengan mengetahui jalannya pekerjaan melalui elemen-elemen pekerjaan atau elemen-elemen gerakan. Maka yang termasuk dalam teknik ini adalah data waktu baku dan data waktu gerakan.


2.10.          Tahapan Penentuan Waktu Normal
Penentuan waktu normal, harus diperhitungkan faktor penyesuaian atau rating factor (Rf). Rating factor ini diperhitungkan jika pengukur berpendapat bahwa operator bekerja dengan kecepatan yang tidak wajar, sehingga hasil perhitungan waktu perlu disesuaikan akan dinormalkan lebih dahulu, untuk memperoleh waktu siklus rata-rata yang wajar. Jika pekerja atau operator bekerja secara wajar, maka rating factor (Rf) sama dengan satu (Rf=1) , artinya waktu siklus rata-rata sudah normal. Jika pekerja lambat, maka rating factor (Rf<1) dan sebaliknya (Rf>1) bila pekerja bekerja dengan cepat. Perhitungan rating factor dilakukan dengan membandingkan nilai penyesuaian seorang operator atau pekerja yang diamati dan diukur dengan nilai penyesuian seorang operator atau pekerja yang bekerja secara normal. Cara-cara untuk menentukan rating factor adalah :
a.       Cara Persentase
Rating factor cara persentase sepenuhnya ditentukan oleh pengukur melalui pengamatannya. Pengukur menentukan harga (p) yang menurut pendapatnya akan menghasilkan waktu normal bila harga ini dikalikan dengan waktu siklus. Terlihat sekilas bahwa rating factor cara ini diselesaikan dengan sangat sederhana. Hal ini menunjukkan bahwa cara yang dilakukan merupakan cara yang paling mudah, namun segera tampak adanya kekurangan dalam ketelitian pengukur, sebagai
akibat kasarnya penilaian.
b.      Cara Shumard
Cara kedua dalam menentukan factor penyesuaian ini adalah Memberikan patokan-patokan penilaian melalui kelas-kelas kinerja kerja dimana setiap kelas mempunyai nilai-nilai tersendiri. Pengukur diberi patokan untuk menilai performance kerja dari operator menurut kelas-kelas tertentu. Perhitungan rating factor dilakukan dengan membandingkan performance seorang operator atau pekerja yang diamati dan diukur dengan performace seorang operator atau pekerja normal. Hasil perbandingan inilah yang menjadi rating factor. Waktu normal akan diperoleh dengan mengalikan harga rating factor dengan waktu terpilih. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.2

2.3. Tabel penyesuaian menurut cara schumard.
Kelas
Penyesuaian (%)

Super fast
Fast +
Fast
Fast -
Excellent
Good +
Good
Good -
Normal
Fair +
Fair
Fair -
Poor

100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
Sumber: Buku “Teknik Perancangan Sistem Kerja“ Sutalaksana, I. Z, dkk,2006

2.      Cara Westinghouse
Cara yang dilakukan oleh Westinghouse ini mengarahkan penilaian pada empat faktor yang dianggap menentukan kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja, yang disebut dengan westing house factor, yaitu:
  1. Keterampilan
  2. Usaha
  3. Kondisi kerja
  4. Konsistensi
Keterampilan atau skill didefenisikan sebagai kemampuan mengikuti cara kerja yang akan ditetapkan. Latihan dapat meningkatkan keterampilan, tetapi hanya sampai ketingkat tertentu saja, tingkat mana merupakan kemampuan maksimal yang dapat diberikan pekerja yang bersangkutan. Keterampilan dapat juga menurun bila telah terlampau lama tidak menangani pekerjaan tersebut, atau karena sebab-sebab lain seperti karena kesehatan yang terganggu, pengaruh lingkungan social dan sebagainya. Keperluan penyesuaian keterampilan dibagi menjadi enam kelas dengan ciri-ciri dari setiap kelas seperti yang dikemukakan berikut ini:
A.     SUPER SKILL
  1. Secara bawaan cocok sekali dengan pekerjaannya.
  2. Bekerja dengan sempurna
  3. Tampak seperti telah terlatih dengan sangat baik
  4. Gerakan-gerakannya halus tetapi sangat cepat sehingga sulit untuk diikuti.
  5. kadang-kadang terkesan tidak berbeda dengan gerakan-gerakan mesin.
  6. Perpindahan dari satu elemen pekerjaan keelemen lainnya tidak terlampau terlihat karena lancarnya.
  7. Secara umum dapat dikatakan bahwa pekerja yang bersangkutan adalah pekerja yang baik.
B.     EXELLENT SKILL:
  1.  Percaya pada diri sendiri
  2. Tampak cocok dengan pekerjaannya
  3. Terlihat telah terlatih baik
  4. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran pengukuran atau pemeriksaan-pemeriksaan.
  5. Gerakan-gerakan kerjanya beserta urutan-urutannya dijalankan tanpa kesalahan.
  6. Menggunakan peralatan yang baik Bekerjanya cepat tanpa mengorbankan mutunya.
  7. Bekerjanya cepat tetapi halus.
  8. bekerja berirama dan terkoodinasi.
C.     GOOD SKILL:
  1. Kualitas hasil baik
  2. Bekerjanya tampak lebih baik daripada kebanyakan pekerjaan pada umumnya
  3. Dapat memberi petunjuk-petunjuk pada pekerja lain yang keterampilannya labih rendah.
  4. Tampak jelas sebagai pekerja yang cakap.
  5. Tidak memerlukan banyak pengawasan.
  6. Tiada keragu-raguan  bekerjanya stabil
  7. gerakan-gerakannya terkordinasi dengan baik
  8. gerakan-gerakannya cepat
D.    AVERAGE SKILL:
  1. Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri
  2. Gerakannya cepat tapi tidak lambat
  3. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan yang perencanaan
  4. Tampak sebagai pekerja yang cakap
  5. Gerakan-gerakannya cukup menunjukkan tiada keraguan- raguan
  6. Mengkoordinasi tangan dan pikiran dengan cukup baik.
  7. Tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk beluk
  8. pekerjaannya.
  9. Bekerjanya cukup teliti
  10. Secara keseluruhan cukup memuaskan.
E.     FAIR SKILL:
  1. Tampak terlatih tetapi belum cukup baik.
  2. Mengenal peralatan dan lingkungan secukupnya
  3. Terlihat adanya perencanaan-perencanaan sebelum melakukan gerakan.
  4. Tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup  Tampaknya seperti tidak cocok dengan pekerjaannya tetapi telah ditempatkan dipekerjaan itu sejak lama.
  5. Mengetahui apa yang dilakukan dan harus dilakukan tetapi tampak tidak selalu yakin.
  6. Sebagian waktu terbuang karena kesalahan-kesalahan sendiri.
  7. Jika tidak bekerja sungguh-sungguh outptunya akan sangat rendah.
  8. Biasanya tidak ragu-ragu dalam menjalankan gerakan- gerakannya.
F.     POOR SKILL;
1.      Tidak bisa mengkoordinir tangan dan pikiran
2.      Gerakan-gerakannya kaku
3.      Kelihatan ketidakyakinannya pada urut-urutan gerakan
4.      Seperti yang tidak terlatih untuk pekerjaan yang bersangkutan
5.      Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaannya
6.      Ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakan kerja
7.      Sering melakukan kesalahan-kesalahan
8.      Tidak adanya kepercayaan diri sendiri.
9.      Tidak bisa mengambil inisiatif sendiri.
Secara keseluruhan tampak pada kelas-kelas di atas bahwa yang membedakan kelas keterampilan seseorang adalah keragu-raguan, ketelitian gerakan, kepercayaan diri, koordinasi, irama gerakan. Dengan demikian pengukur akan lebih terarah dalam menilai kewajaran pekerja dilihat dari segi keterampilannya. Usaha atau effort cara westinghouse membagi membagi kelas-kelas. Yang dimaksud dengan usaha adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau diberikan operator ketika melakukan pekerjaannya. Berikut ini ada enam kelas usaha dengan ciri-cirinya.
A.     EXCESSIVE EFFORT:
  1. Kacapaian sangat berlebihan
  2. Usahanya sangat bersungguh-sungguh tetapi dapat membahayakan kesehatannya
  3. Kecepatan yang ditimbulkannya tidak dapat dipertahankan sepanjang hari kerja.
B.     EXELENT EFFORT:
  1. Jelas terlihat kecepatan kerjanya yang tinggi
  2. Gerakan-gerakan lebih ekonomis daripada operator-operator biasa.
  3. Penuh perhatian pada pekerjaannya
  4. Banyak memberi saran-saran
  5. Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang
  6. Percaya kepada kebaikan maksud pengukuran waktu
  7. Tidak dapat bertahan lebuh dari beberapa hari
  8. Bangga atas kelebihannya
  9. Gerakan-gerakan yang salah terjadi sangat jarang sekali
  10. Bekerjanya sistematis
  11. Karena lancarnya, perpindahan dari suatu elemen ke elemen lain tidak terlihat.
C.     GOOD EFFORT:
  1. Bekerja berirama
  2. saat-saat menganggur sangat sedikit, bahkan kadang-kadang tidak ada.
  3. Penuh perhatian pada pekerjaannya.
  4. Senang pada pekerjaannya.
  5. Kecepatannya baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari.
  6. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu
  7. Menerima saran-saran dan petunjuk-petunjuk dengan senang
  8. dapat memberi saran-saran untuk perbaikan kerja.
  9. Tempat kerjanya diatur baik dan rapi
  10. Menggunakan alat-alat yang tepat dengan baik
  11. Memelihara dengan baik kondisi peralatan

4 komentar:

  1. daftar pustaka apa2 aja, tlong donk share, soalnya lgi bingung nyari skripsi ttg ini...trims

    BalasHapus
  2. bisa minta file lengkapny bg.....soalnya saya mengakat judul yg ini,susah kali nyari bahan2ny bg
    mohon bantuannya
    #trims
    jupiterband96@gmail.com
    itu email saya bg

    BalasHapus